Mocca, after a couple of years entertaining us with their swinging pop music, finally decide to take a big ‘break’. Picture was taken from their Press Conference at Lou Belle Shop, this Friday, on June 17, 2011. It’s been great having you Mocca! Sayonara and good luck! Hope to see you again…soon, hopefully!
Archive for the 'Kuliner' Category

Dipagi hari yang masih sejuk, saat perut meronta karena tidak sempat sarapan, maka pilihan kami di Setiabudhi 56 adalah melakukan kunjungan ke Jl.Karang Sari sebelum pom bensin, tepat didepan sebuah sekolah pariwisita. Disitu ada gerobak bubur ayam yang dijaga oleh pemuda bernama Hilman.
Hilman ini selalu melayani para pelanggannya dengan wajah berhias senyuman, dan pelanggannya yang juga terdiri dari mahasiswi berseragam sekolah pariwisata seringkali menggoda si Hilman ini. Sementara saya dan teman saya cukup menikmati pemandangan segar college girl in uniform itu dipagi hari.
Balik ke bubur.
Bubur ayam si Hilman ini berisikan suwir daging ayam, kacang, daun seledri, bawang goreng, cakwe plus bumbu-bumbu seperti kecap manis dan asin, dll. dan sebagai pelengkap bisa ditambahkan telur rebus. Buburnya sendiri tidak terlalu encer dan juga tidak terlalu keras. bisa dibilang cukup pas takaran air dan beras nya. Membuat perut tidak terlalu kenyang, dan menyisakan ruang untuk makan siang nanti.
Cukup menjadi rekomendasi, karena selain harganya yang cukup murah Rp.3500,- saja, sudah termasuk bonus teh tawar. Rasanya pun tidak mengecewakan, walaupun tidak bisa dibilang amazing juga.
ponten : 6.9
pelayanan : 8

Pedagang bakso Cuanki bernama Mang Asep ini keberadaan nya di halaman Monik House tidak bisa diprediksi. Tapi jika datang, beliau biasanya nangkring sekitar jam 11.30 sampe sore menjelang maghrib. Karena keberadaannya yang rada-rada tidak berpola ini, kadang kala tempatnya nongkrong disalip oleh pedagang cuanki lainnya. Namun kebanyakan anak Setiabudhi 56 tetap lebih memilih Mang Asep dan menanti kedatangannya.
Kalau dirasa-rasa bakso nya Mang Asep ini kalah jauh dengan Bakso Malang Karapitan misalnya, bahan-bahan yang digunakan pun sebenarnya sudah tidak bisa disebut segar. Cuma dikala duit cuma goceng, dan mulut ingin yang gurih-gurih disiang bolong, pada akhirnya kuah berlarut vetsin inilah penawarnya.
Satu paket goceng isinya bakso kecil 2 biji, somay 2 biji, tahu kulit satu buah dan tahu putih satu buah. Diberi kuah secukupnya plus bumbu garam, seledri, bawang goreng dan tentunya Ajinomoto.
Soal rasa, tidak bisa dibilang jempolan, bahkan tidak akan ada satupun jempol terangkat. Kami terpaksa menikmatinya karena terlalu malas untuk keluar dari pelataran Setiabudhi 56, atau karena lagi akhir bulan ga ada duit jajan di The Kiosk.
Tetapi kami tetap berdoa semoga Mang Asep bisa “Cuan” dan “Lucky” seperti nama dagangannya Cuanki, jadi usaha nya Cari UAng jalan kaKi nya ga sia-sia.
Rasa : 3.9
Pelayanan : full services. 7-9 tergantung mood do’i

Cullinaire Adventure eps.02
Pak U’un berjalan cukup jauh untuk menjajakan dagangannya ini. Saya lupa dia berjalan darimana tapi yang jelas jaraknya cukup jauh dari Monik House di Setiabudhi 56 tempat saya biasa membeli DimSum Bandung ini. Berdasarkan ceritanya dia berjalan sejak jam 13.00 (kalau tidak hujan), menyusuri beberapa perumahan, dan biasanya tiba di pelataran parkir Monik House pada pukul 15.00 dan pindah ke depan supermarket Setiabudi pada pukul 19.00 atau 20.00 an. Tergantung mood nya aja, kadang kalo sedang asik maen catur dia bisa nongkrong sampai hampir jam 21.00.
Isi dagangannya standar tukang siomay lainnya, yaitu Siomay Aci, tahu kulit, tahu putih, kol, pare, kentang dan andalannya telor rebus dan kerupuk. Seperti siomay-siomay gerobak pada umumnya produk pak U’un ini dibuat dari bahan dasar aci (kanji) diberi perasa dan mungkin sedikit daging ikan.
Secara rasa siomay Pak U’un ini sebenarnya kurang stabil, jadi kadang berasa kurang enak, kadang berasa tidak enak. Tetapi entah kenapa jadi terasa nikmat apabila dinikmati disore hari sebagai penganjal perut sebelum makan malam, jangan lupa tambahkan kerupuk dan rasakan kombinasi kerupuk dengan bumbu kacangnya.
Soal harga cukup murah, satu porsinya 5000, harga kerupuknya 1000 dapet 3 buah kerupuk ukuran kecil. Dan untuk beberapa pelanggan tetap, dia memberikan jasa makan hari ini, bayar besok. Cuma saya tidak menyarankan hal itu, karena Pak U’un ini hanya pedagang kecil.
Untuk menawarkan dagangannya bapak bertubuh agak gemuk ini melakukan hal standar pedagang gerobak kelilingn pada umumnya yaitu kerlingan mata dan jari jempol yang menunjuk ke arah gerobaknya. Kadang berhasil, kadang tidak, cuma kayaknya dia type orang yang selalu bersyukur sehingga tidak terlihat wajah kecewa walaupun tidak berhasil membuat target nya membeli somay.
Pelayanan Pak U’un cukup baik, dia tidak pernah lupa menawarkan produk-produk ungulannya seperti Telur rebus dan kerupuk, cuma kadang dia suka menghilang dikegelapan untuk bermain catur. Jika sampai terjadi hal demikian, maka para calon pembeli terpaksa sedikit berteriak memanggil “Pak U’un, siomay”, maka beliau akan segera melayani anda dengan senyum khasnya.
Coba lah sekali-kali saat kamu berkunjung ke Monik House, jika cukup beruntung kamu akan berhasil mencicipi siomay legendaris ini. Dan seperti jajanan berbahan aci dan vetsin lainnya, tidak disarankan untuk dinikmati sehari lebih dari satu porsi.
Judgement.
Rasa : 5 dari 10, kadang 4.5. Kalo mood saya lagi bagus bisa dapet 6.
Pelayanan : 7.9

Cullinaire Adventure eps.02
Pak U’un berjalan cukup jauh untuk menjajakan dagangannya ini. Saya lupa dia berjalan darimana tapi yang jelas jaraknya cukup jauh dari Monik House di Setiabudhi 56 tempat saya biasa membeli DimSum Bandung ini. Berdasarkan ceritanya dia berjalan sejak jam 13.00 (kalau tidak hujan), menyusuri beberapa perumahan, dan biasanya tiba di pelataran parkir Monik House pada pukul 15.00 dan pindah ke depan supermarket Setiabudi pada pukul 19.00 atau 20.00 an. Tergantung mood nya aja, kadang kalo sedang asik maen catur dia bisa nongkrong sampai hampir jam 21.00.
Isi dagangannya standar tukang siomay lainnya, yaitu Siomay Aci, tahu kulit, tahu putih, kol, pare, kentang dan andalannya telor rebus dan kerupuk. Seperti siomay-siomay gerobak pada umumnya produk pak U’un ini dibuat dari bahan dasar aci (kanji) diberi perasa dan mungkin sedikit daging ikan.
Secara rasa siomay Pak U’un ini sebenarnya kurang stabil, jadi kadang berasa kurang enak, kadang berasa tidak enak. Tetapi entah kenapa jadi terasa nikmat apabila dinikmati disore hari sebagai penganjal perut sebelum makan malam, jangan lupa tambahkan kerupuk dan rasakan kombinasi kerupuk dengan bumbu kacangnya.
Soal harga cukup murah, satu porsinya 5000, harga kerupuknya 1000 dapet 3 buah kerupuk ukuran kecil. Dan untuk beberapa pelanggan tetap, dia memberikan jasa makan hari ini, bayar besok. Cuma saya tidak menyarankan hal itu, karena Pak U’un ini hanya pedagang kecil.
Untuk menawarkan dagangannya bapak bertubuh agak gemuk ini melakukan hal standar pedagang gerobak kelilingn pada umumnya yaitu kerlingan mata dan jari jempol yang menunjuk ke arah gerobaknya. Kadang berhasil, kadang tidak, cuma kayaknya dia type orang yang selalu bersyukur sehingga tidak terlihat wajah kecewa walaupun tidak berhasil membuat target nya membeli somay.
Pelayanan Pak U’un cukup baik, dia tidak pernah lupa menawarkan produk-produk ungulannya seperti Telur rebus dan kerupuk, cuma kadang dia suka menghilang dikegelapan untuk bermain catur. Jika sampai terjadi hal demikian, maka para calon pembeli terpaksa sedikit berteriak memanggil “Pak U’un, siomay”, maka beliau akan segera melayani anda dengan senyum khasnya.
Coba lah sekali-kali saat kamu berkunjung ke Monik House, jika cukup beruntung kamu akan berhasil mencicipi siomay legendaris ini. Dan seperti jajanan berbahan aci dan vetsin lainnya, tidak disarankan untuk dinikmati sehari lebih dari satu porsi.
Judgement.
Rasa : 5 dari 10, kadang 4.5. Kalo mood saya lagi bagus bisa dapet 6.
Pelayanan : 7.9













Latest Comments
RSS